

*SAMRAI” Penyeimbang Yang Dibutuhkan TIORITA Br, Surbakti’ UNTUK LANGKAT 2026-2029*
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sumut Terkini id// LANGKAT, Stabat – 16 Agustus 2026_
Pemerintahan Kabupaten Langkat sedang diuji. Usai badai politik, tongkat estafet sementara kini berada di tangan *Plt. Bupati Tiorita Br Surbakti, SH*.
Tugasnya jelas dan berat: menjaga stabilitas birokrasi, memastikan pelayanan tidak macet, dan pembangunan tetap on track hingga 2029.
Tapi stabilitas tak bisa ditopang satu pundak. Dalam sistem pemerintahan daerah, Wakil Kepala Daerah bukan ban serep. Dia adalah jembatan kebijakan, akselerator program, dan penyeimbang representasi wilayah.
Maka pertanyaannya mengerucut: *Siapa figur yang paling tepat mendampingi Tiorita di sisa masa jabatan ini?*
Di antara banyak nama, satu figur kian diperhitungkan: *Samsul Rizal, atau Samrai*. Kader PAN, anggota DPRD Langkat 2 periode.
Berikut 3 alasan mengapa namanya layak dipertimbangkan, menurut catatan _Heru Cakra_, pemuda Langkat:
*1. REKAM JEJAK: SUARA DARI PESISIR TELUK ARU*
Samrai bukan nama baru. Ia lahir dan besar di Teluk Aru, wilayah pesisir yang denyut ekonominya bertumpu pada nelayan, petani, dan UMKM.
Karena itu pemahamannya terhadap persoalan rakyat tidak lahir dari kertas. Ia tahu betul getirnya jalan rusak ke sentra produksi. Ia paham mengapa harga ikan bisa jatuh karena mata rantai distribusi. Ia mengerti desa pesisir butuh solusi nyata, bukan seremoni.
Bekal lapangan itu ia bawa ke Gedung DPRD. Sebagai legislator, ia terbiasa membedah APBD, menyerap aspirasi, dan membangun komunikasi lintas fraksi.
Kombinasi pengalaman akar rumput dan kapasitas kebijakan inilah nilai jual utamanya.
*2. KEBUTUHAN LANGKAT: KOMPLEMENTARITAS, BUKAN DUPLIKASI*
Tiorita Surbakti punya kekuatan di ranah sosial: pemberdayaan keluarga, penguatan komunitas, dan sisi humanis pemerintahan. Itu fondasi penting.
Namun tantangan Langkat hari ini juga menuntut hal lain: *percepatan infrastruktur, pemerataan ekonomi antar kawasan, dan penguatan koordinasi eksekutif-legislatif.*
Di sinilah Samrai bisa saling mengisi. Pendekatannya pragmatis dan berbasis hasil. Gaya Tiorita partisipatif.
Dalam bahasa politik ini disebut _complementary leadership_ – dua kekuatan berbeda, untuk satu tujuan yang sama.
Meski Koalisi Satria pemenang Pilkada 2024 punya kader lain di bursa, suara dari bawah mulai mengerucut pada satu nama.
*3. ISU INTEGRASI: MENYATUKAN HULU, HILIR, DAN PESISIR*
Secara geografis Langkat punya 3 wajah: Hulu, Hilir, dan Pesisir. Selama ini narasi pembangunan sering bertumpu di pusat dan hilir. Akibatnya, pesisir merasa kurang terwakili.
Kehadiran Samrai sebagai putra Teluk Aru membuka peluang koreksi. Ia paham pesisir butuh pelabuhan perikanan, cold storage, dan akses pasar. Ia juga rutin berinteraksi dengan masyarakat hulu dan memiliki jejaring di sana.
Jika dipercaya menjadi Wabup, Samrai berpotensi jadi *perekat*. Bukan menciptakan sekat baru, tapi memastikan setiap wilayah merasa bagian dari satu Langkat.
Prinsipnya: _spatial equity_ – keadilan spasial. Ini tentu akan jadi bahan negosiasi politik yang alot. Tapi kebutuhan daerah tidak bisa menunggu.
*MENUJU PEMERINTAHAN YANG DIRASAKAN*
Sisa masa jabatan 2026-2029 singkat, tapi krusial. Rakyat tidak butuh janji panjang. Yang dibutuhkan: *kerja cepat, terukur, dan terasa sampai ke dapur.*
Kolaborasi Tiorita – Samrai menawarkan format itu. Sisi sosial diperkuat. Sisi pembangunan dipercepat. Sisi representasi wilayah diperluas.
Keputusan akhir tentu ada di mekanisme politik, aspirasi partai, dan DPRD. Namun dari sisi kebutuhan tata kelola, *nama Samsul Rizal layak masuk dalam 3 besar pertimbangan.*
Langkat butuh pemimpin yang menyatukan, bukan memisahkan. Yang mendengar dari hulu sampai ke pesisir.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak diukur dari lamanya duduk di kursi.
Tapi dari seberapa besar perubahan yang dirasakan rakyat.
_MN_









